Babak Baru The Eagle Owl, Sang Pembidik Talenta Juara

Tiba-tiba saja beberapa anggota Boss Squad yang pagi itu berkumpul di Community House mendadak heboh. Rupanya ada DM masuk dari salah seseorang idola mereka di arena esports Free Fire, “Pak, ada DM dari Skyla pengen minta kontak pimpinan Boss Squad katanya.” tutur Agus, salah satu anggota paling senior dengan muka girangnya.

Di kalangan komunitas Free Fire, siapa yang tak kenal Skyla, caster kondang yang sudah malang melintang mengisi layar streaming game besutan Garena Indonesia tersebut, mulai dari turnamen komunitas hingga Kejuaraan di level pro. Dari Official Turnamen yang diselenggarakan Garena sendiri maupun turnamen pro besutan esports organizer berkelas dunia seperti ESL.

Anak muda multitalended ini selalu tampil konsiten dengan gaya kasual nyaris tanpa aksesoris, hanya rambut pirang dengan belahan tengahnya yang mengidentikannya. Jika dibandingkan dengan caster-caster lainya, sebut saja Elhaya, senior sekaligus mantan mentornya di Garena  yang tak pernah lepas dari topi dan kacamata pelanginya, penampilan Skyla memang jauh dari kata nyentrik  yang memang sedang hype di kalangan caster Free Fire kala itu.

Tapi untuk urusan mengulas jalannya turnamen,  bisa dibilang Skyla punya gaya paling berkelas . Pembawaannya yang tenang, cinderung menggunakan pilihan kata yang mudah dipahami, dibanding memilih bergaya dengan istilah asing . Dia memahami betul kondisi demografis mayoritas penontonnya. Konon gaya itu terinspirasi dari sosok Ryan “KB” Batistuta, caster kondang dari game Mobile Legends.

Maka tak berlebihan rasanya jika si Agus pagi itu benar-benar menaruh harapan besar  suatu saat Skyla bisa datang ke Community House untuk sekadar berbagi pengalaman-pengalamannya.

Mewarisi Skill Vision dari Ayahnya

Jika mengulas balik awal perjalanan Skyla di dunia game, maka tak bisa dilepaskan dari peran besar Ayahnya. Sikap sang Ayah dalam mendukung bakat dan minat skyla kecil di dunia game kelak menjadi sebuah keputusan yang visioner

Berbeda dengan kebanyakan orang tua saat itu yang menjadikan game sebagai gangguan serius anak-anak mereka untuk bisa berprestasi di sekolah,  Ayah Skyla justru berpikir sebaliknya. Menyadari bahwa putranya memiliki minat yang cukup tinggi di dunia game, alih-alih melarang, Ayah Skyla justru mendukung, dan terus menjadi partner terbaik skyla dalam mencoba berbagai game dengan beragam genre. Dari zaman Nintendo hingga zaman di mana warnet-warnet berubah fungsi menjadi kamar kos alternatif pecandu game di era 2000an awal  waktu itu, Ayah Skyla tak pernah lepas mendampingi dan memberi dukungan positif.

Meski mendapat pendampingan dan dukungan penuh sang Ayah bukanlah jaminan bahwa Skyla bersih dari pengalaman kelam yang lumrah dialami para pecandu game kebanyakan.

Absen pada Ujian Nasional saat di Sekolah Dasar menjadi satu pengalaman terburuknya. Meski nyaris tak lulus jika saja saat itu ujian susulan tak diberlakukan, Skyla yang masih duduk di kelas 6 SD waktu itu tak canggung atau takut untuk mengakui kesalahan dan minta maaf kepada kedua orangtuanya. Lagi-lagi bukannya marah, Sang Ayah dengan bijaksana hanya memberinya nasihat.

Insiden itulah yang menyadarkannya bahwa peran aktif sang Ayah dalam memberikan pendampingan dan dukungan selama ini telah membentuknya menjadi seorang  yang sportif.

Totalitas dan Tekun Berproses

Skyla sempat serius menekuni profesi sebagai atlet esports di sejumlah jenis game mulai Dota 2, CS:GOPoint Blank, Crossfire, hingga Mobile Legends.  Pernah menjadi pemain Top Global Hilda pada musim pertama, memegang posisi pertama Alucard dan Clint juga pernah dirasakannya. Namun karena minim kompetisi, Skyla memutuskan berpindah ke game lain yaitu Free Fire. Disinilah babak baru menuju dunia caster bermula

“Sekarang nge-cast sudah bukan hanya sekadar menjalani hobi. Bidang ini sudah menjadi bagian dari diri saya sendiri,” jelas Skyla

Ketertarikannya menjadi seorang caster bermula ketika menonton turnamen The International. Di ajang tersebut, Skyla terinspirasi sosok Toby “TobiWan: Dawson. Disitulah, keinginan untuk menjadi seorang caster semakin tinggi.

Ketika menjalani pekerjaan sebagai seorang caster, Skyla mengimplementasikan gaya Tobiwan ketika membawakan pertandingan. Selain itu, dirinya juga mengagumi sosok Ryan “KB” Batistuta, caster kondang dari game Mobile Legends.

Menurutnya, KB sangat informatif ketika menjadi seorang caster dan itu adalah hal yang paling penting. karena, segala informasi yang ada di dalam game harus disampaikan kepada penonton dan KB melakukan hal tersebut dengan baik. Oleh sebab itu, menurutnya KB adalah caster terbaik di Indonesia saat ini.

Babak Awal di Manajemen Esports

Boleh dibilang kemampuannya sebagai ahli pembidik talenta bermula dan semakin terasah disini,  Kesempatan yang di dapat dari pemilik tim Capital Esports, Pebryan Arisandy benar-benar tak disia-siakannya.

Pengalamannya saat malang melintang sebagai atlet esports profesional sangat membantunya dalam membangun tim Capital hingga meraih berbagai prestasi.

“Pengalaman ketika menjadi pro player bikin saya bisa menilai kemampuan bermain seseorang. Semuanya makin lengkap saat saya menjadi caster karena juga lebih leluasa dalam menilai dengan menganalisis permainannya,” ungkapnya.

Pemahaman gameplay dan mekanisme permainan jadi bekal utamanya dalam mencari pemain.  Skyla memiliki gaya pengamatan tersendiri. Menurutnya, selain skill ada banyak hal lain yang harus diperhatikan ketika kita sedang dalam posis membidik calon pemain. Mulai dari hal-hal  utama dalam urusan talent scouting seperti penguasaan mekanik, hingga hal-hal pendukung seperti kepribadian dan keseharian juga tak luput dari pengamatannya.

Ketajaman vision dan tangan dinginnya dalam membidik dan meramu para punggawa Capital sebelum akhirnya bergabung menjadi  EVOS Capital  dan bagaimana dia mempertemukan 4 pemain berkelas dalam satu ONIC Olympus membawanya ke pengalaman selanjutnya sebagai Arsitek tim RRQ Hades yang menjuarai ajang Dunia Games Golden Ticket dan RRQ Poseidon diantarkan sebagai runner up di Free Fire Indonesia Master.

The Eagle Owl; Sebuah Kebetulan Yang Ditakdirkan

Suatu malam di penghujung Desember 2019 apa yang menjadi harapan si Agus dan juga kawan-kawannya pagi itu akhirnya terbayar lebih dari yang dibayangkan.  Skyla tak sekadar datang menyapanya di Boss Squad Community House. Skyla telah membuat keputusan terbesar hari itu  “babak baru perjalanannya akan dimulai disini.” Sosoknya yang sangat identik menyerupai makna symbol logo Boss Esports “THE EAGLE OWL” yang sudah dirancang jauh sebelum DM bersejarah itu diterima si Agus, bisa jadi sebuah kebetulan yang ditakdirkan. ‘

Selamat Datang  di Community House ini “Boss Redondo Skyla Nasuiton”.

THE EAGLE OWL kini tak lagi sekadar logo, Sang Pembidik Talenta Juara kini hadir disini, menjadi bagian keluarga ini, tekadnya bulat akan mendedikasikan seluruh pengalamannya membangun, dan membesarkan Tim dan Komunitas ini.

Tak banyak kalimat yang keluar dari mulutnya malam itu, sambil memain-mainkan stick PES yang ada di tangannya, bersiap melayani tantangan kehormatan bermain PES dari si Agus, dengan santai dia berkata didepan kami semua yang ada malam itu,  termasuk di hadapan Christian, CEO Tim,  “Tim Boss Esports adalah mimpinya, yang akan menjadi mimpi jutaan orang lainnya.”

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *